Tuesday, October 6, 2009

MEMBACA SAPARDI

Selepas hari raya sebenarnya banyak hal yang ingin dituliskan. Tetapi tak jadi hendak menulisnya. Jadi saya memilih untuk membaca Sapardi.

Cahaya Sore

ketika cahaya sore menerobos beranda rumahmu
segera kauturunkan tirai bambu itu;
tidakkah k
ausadari bahwa tak ada pembatas
antara tubuhmu dan debu yang melayang bebas?

2001


3 comments:

ridzuan said...

Be,
selain keasyikan kita pada puisinya, cerita pendek sapardi juga memukau. Kumpulan cerpennya Membunuh Orang Gila sangat asyik, indah dan luar biasa bila membacanya. Sesekali seperti membaca prosaik yang sangat puitis, sesekali seperti membaca puisi yang sangat prosaik. Agaknya itulah kehebatan setelah berpuluh-puluh tahun bergelumang dengan puisi, ketika tua terasa sangat memikat dengan cerita pendeknya.

edolah said...

sheikh,
jgn lupa...ada penyair kita...ketemu sama pak sapardi bisa ngomong dgn bangga..puisinya sama dgn puisi pak sapardi!bikin gawat !

Rahimidin Z said...

Suluk,
hebat ke? saja-saja baca je. tari pendet lagi hebat? buluh runcing dan gempa bumi lagi luarbiasa dok?

Edolah,
Kawan kita tu memang macam tu. Biarlah dia. Paling tidak.. dah ada yang sama taraf. He. He.